Resensi Ketika Cinta Bertasbih 2
Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan
Bermula dengan penuturan tentang keindahan suasana dini hari di Pesantren Darul Quran, Kang Abik berhasil mengajak pembacanya untuk seakan memasuki satu demi satu alur cerita di bagian kedua dari karya dwilogi Pembangun Jiwa-nya “Ketika cinta Bertasbih” ini.
Kehadiran seorang gadis jelita dengan kekhusyuan ibadahnya di sepertiga malam terakhir itu, telah memperkuat karakter ia, seorang mahasiswi terbaik di Al Azhar University, ialah Anna Althafunnisaa. Seorang putri dari Kiai Lutfi pemilik pondok pesantren Daarul Qur’an.
Kisah berlanjut dengan pemaparan suasana kegundahan hati seorang master lulusan terbaik pula dari Universitas tertua di dunia itu. Furqan. Tentunya kita masih ingat ia ketika disaat-saat kebahagiaan ia akan keberhasilannya meraih gelar master, ia juga harus rela menyandang predikat sebagai pengidap HIV di Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 1.
Kegundahan hati itu terus berlanjut walaupun sampai ketika Anna menerima pinangannya dari Furqan. Ia bagai berada di ujung sebuah tebing kebimbangan, antara meneruskan ke jenjang pernikahan atau membatalkan semuanya.
Sampai akhirnya, pil pahit harus ditelan oleh banyak dari para pria yang selama ini menaruh hati pada Anna Althafunnisaa. Tak terkecuali Khairul Azzam, seorang mahasiswa Al Azhar yang baru dapat menyelesaikan kuliahnya setelah hampir 9 tahun lamanya ia berada di negeri para nabi itu. Pada bagian kedua karya dwilogi ini diceritakan tentang kepulangan Azzam yang disambut bahagia oleh keluarganya. Banyak perubahan yang terjadi pada kehidupan keluarga Azzam jika dibandingkan dengan kehidupan 9 tahun yang lalu sebelum ia berangkat menunaikan cita-cita. Salah seorang adiknya yaitu Ayatul Husna kini telah menjadi seorang cerpenis remaja yang mendapatkan penghargaan dari Menteri Pendidikan Nasional Indonesia.
Keberadaan tokoh-tokoh sebelumnya di KCB 1, serta hadirnya tokoh-tokoh baru di KCB 2 semakin membuat karya ini terasa begitu wah. Bahkan menurut saya pribadi jika dibandingkan dengan KCB 1, KCB 2 ini jauh lebih bagus dalam segi penuturan kisahnya.
Ada beberapa cerita yang telah usai di KCB 1 dan tidak sedikitpun tertulis kembali di KCB 2, seperti halnya kisah kekecewaan Fadhil ketika seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, yang ia pernah harapkan dapat menjadi belahan jiwanya ternyata menikah dengan sahabatnya sendiri.
Konflik tajam terjadi pada beberapa bagian dari novel ini, diantaranya pada shubuh hari ketika terjadi keributan di rumah Azzam, disana diceritakan tentang seorang paman yang akan menembak dan membunuh keponakannya sendiri. Kemudian klimaks cerita ini terjadi ketika terjadi kecelakaan dimana yang menjadi korbannya adalah Azzam dan Ibunya, mereka terpelanting jatuh dari atas sepeda motor karena tertabrak bus yang ugal-ugalan, sampai akhirnya Azzam harus rela berbaring di rumah sakit menderita patah tulang, sementara ibunya berpulang menghadap ke hadirat Alloh SWT.
Ada raut kesedihan disana, padahal saat musibah itu terjadi adalah hanya berselang 4 hari sebelum pesta pernikahan Azzam dengan seorang dokter dari Kudus.
Ada banyak kisah yang terjadi secara tiba-tiba diluar dugaan para pembaca. Namun secara keseluruhan, kesinambungan cerita dari satu tokoh yang ditampilkan dengan tokoh lain di bagian lainnya, masih tetap menjadi satu ciri khas dari karya-karya kang abik, yang mampu membuat decak kagum para pembacanya.
Selain dari kuatnya alur serta penokohan dalam KCB 2 ini, kang abik juga masih terlalu lihai menceritakan keseharian dalam kehidupan pesantren, tentunya ini mungkin karena sesuai dengan latar dari kehidupan kang abik itu sendiri. Kemudian, satu persatu keilmuan tentang fiqih, aqidah, dan lain sebagainya tetap menjadi suguhan utama yang beliau munculkan dalam bagian cerita ini, tanpa sedikitpun membuat para pembaca merasa digurui.
Bukan hanya kisah cinta, nilai-nilai semangat wirausaha atau jiwa entrepreneurship yang dimiliki Azzam, masih berlanjut di KCB 2. Bahkan nilai inovatif serta kerja kerasnya telah mengantarkan ia menjadi salah satu pengusaha muda dari kota Solo.
Jika dibandingkan dengan bagian sebelumnya, KCB 2 ini memang jauh lebih diperuntukkan bagi kalangan dewasa. Keromantisan sebuah pasangan suami istri dimunculkan melebihi apa yang pernah muncul di Ayat-ayat Cinta.
Namun alhamdulillah, akhirnya semua berlalu dan berakhir pada satu hal yang justru jauh tidak terbayangkan sebelumnya. Satu kisah cinta Khairul Azzam dengan Anna Althafunnisaa menutup akhir cerita ini dengan manis.
Semoga kisah ini kembali menjadi satu jalan kebangkitan ummat untuk kembali mengenal kemuliaan Islam. Aamiin yaa Robbal’alamiin … (GOOGLE)
JAKARTA, kabarbisnis.com: Sebuah film sekuel epik perang, bakal hadir bertepatan Hari Raya Lebaran. Masih ingat film Merah Putih, peraih penghargaan, pencetak box office 2009 yang ditonton jutaan penonton, dan berhasil menembus pasar lebih dari 10 negara, kini hadir film kedua dari
Trilogi Merdeka, DARAH GARUDA: MERAH PUTIH II.
Dengan mengetengahkan kisah kelahiran Indonesia pada dunia, melalui proyek film terbesar sepanjang sejarah Indonesia, masih menyajikan suasana perang tahun 1047. Laga mendebarkan, drama, romansa dan intrik menjadi balutan menarik. Apalagi sebuah karya pita siluet, yang menyatukan pekerja film terbaik Indonesia ditunjang efek khusus Hollywood.
PT Media Desa Indonesia, yang memproduksi film epik perang bertabur bintang ini, menggandeng Margate House Films, sebuah rumah produksi internasional yang dimiliki oleh orang Amerika, Rob Allyn. B. Sejumlah pemain ternama, tampil sangat prima dan berhasil memukau penonton.
"Setahun terakhir, bersamaan perjalanan Merah Putih yang meraih sukses box office, penghargaan di dalam negeri sampai berbagai festival dan pasar film internasional di Los Angeles, Cannes, Pusan, Berlin, Hong Kong, Amsterdam, Sydney dan Moscow, kami sangat senang dan terhormat akan reaksi penonton yang luar biasa besar dan antusias terhadap kisah penting tentang pengorbanan para pahlawan demi persatuan, toleransi beragama, dan kemerdekaan,” papar Hashim Djojohadikusumo selaku produser eksekutif.
Sejak Juli 2010, sambung Hashim, saat 200 trailer dari sekuel kedua Trilogi Merdeka ini diputar di bioskop se nusantara, sudah menjadi film paling ditunggu. Memang kisahnya berlanjut ke skala lebih besar baik di darat, laut, dan udara dengan adegan-adegan laga yang lebih besar. Ditambah konflik dramatis yang lebih dalam, intrik dengan kejutan tak terduga, pengkhianatan, dan spionase. Film ini juga memfokuskan pada peran perempuan, anak dan Belanda pada masa Revolusi.
“Kami memilih saat Idul Fitri untuk merilis film ini, karena liburan Lebaran merupakan momen dimana keluarga berkumpul dan film kedua ini sungguhlah tepat untuk berbagi bersama di antara generasi berbeda dalam keluarga Indonesia,” jelas Hashim.
Film ini memperlihatkan bagaimana semua orang dari usia, jender, agama, kelas sosial dan etnis berbeda justru bersatu – perempuan dan anak-anak, tua dan muda, Muslim dan Kristen, Hindu maupun agama lain dan berbagai suku, mengorbankan semuanya bukan demi uang tapi untuk kemerdekaan.
Film ini menyampaikan pesan-pesan toleransi, saling menghargai, kebersamaan, saling tolong-- nilai-nilai dasar untuk karakter bangsa yang dimulai dari keluarga, tambah Hasyim.
Indonesia telah memberikan contoh yang luar biasa kepada dunia dengan nilai-nilai tersebut sejak kelahiran bangsa ini, namun kisah ini tidak terlalu dikenal dari yang seharusnya, sambung Rob Allyn, produser eksekutif dan penulis skenario.
“Tujuan kami adalah untuk berbagi cerita tentang kemerdekaan, pengorbanan, persatuan dan toleransi baik bagi generasi Indonesia saat bersama keluarga, maupun untuk di luar negeri yang telah merespon dengan positif lewat film pertama Merah Putih,” sambung Rob.
Darah Garuda mengikuti sebuah kelompok heroik para kadet yang menjadi tentara gerilya tahun 1947. Mereka, para pejuang terpecah oleh rahasia-rahasia mereka di masa lalu dan konflik yang tajam dalam hal kepribadian, kelas sosial dan agama, keempat lelaki muda bersatu untuk melancarkan sebuah serangan nekat terhadap kamp tawanan milik Belanda demi menyelamatkan para perempan yang mereka cintai.
Para kadet ini terhubung dengan kantor pusat Jendral Sudirman, dimana mereka diberi sebuah tugas sangat rahasia di belakang garis musuh di Jawa Barat. Sebuah serangan gaya komando pada lapangan udara vital, yang dapat membalikkan perlawanan para pemberontak melawan kezaliman, yang telah dilakukan Jendral Van Mook pada Agustus 1947.
Kelompok gerilya ini menembus dalam ke Jawa Barat, dan bertemu kelompok lain dari separatis Islam, juga sekutu baru maupun yang potensial berkhianat: mata-mata kolonial dengan pangkatnya sendiri dan sekutu orang-orang sipil dari jalanan; dan musuh lama yang bertanggung jawab atas intelejen Belanda.
Dikepung oleh musuh yang mengelilingi, baik musuh dari luar maupun dari dalam, para pahlawan ini harus bersatu dan saling percaya karena mereka berjuang melawan intrik, perkelahian jarak dekat, pengkhianatan dan kekuasaan luar biasa sebuah maha kekaisaran Eropa, demi mengejar satu tujuan: Kemerdekaan.
Darah Garuda memasangkan keahlian sinematik dari penata sinematografi terhandal di Indonesia, Yadi Sugandi (Laskar Pelangi, Under The Tree, The Photograph) dengan kekuatan penyutradaraan dinamis dari bintang baru Conor Allyn, yang keahlian berceritanya sebagi penulis dan produser trilogi Merah Putih, memadukan drama dan laga dalam cara bertutur gaya gerak memancang.
Bersama, Yadi Sugandi dan Conor Allyn berhasil menyutradarai sebuah saga peperangan yang hidup dengan alur cepat di darat, laut, dan udara, yang merupakan film epik terbesar dan paling profesional dalam sejarah bangsa, penuh laga, ketegangan, kejutan dan kelokan, intrik, romansa, humor dan penampilan dramatis oleh para pemain yang mempesona dari bakat terbaik perfilman Asia Tenggara.
Dibesut dalam format 35-milimeter berdurasi 100 menit, Film ini menampilkan adegan-adegan action memukau yang melibatkan ahli perfilman internasional terbaik dalam bidang efek khusus dan tata teknis lain yang berpengalaman di perfilman Hollywood. Dengan tim penyutradaraan baru Yadi Sugandi dan Conor Allyn, Darah Garuda dan film ketiga yang nanti akan muncul dari trilogi ini, Hati Merdeka.
Digawangi oleh para pembuat film profesional Indonesia dan Hollywood yang terkenal dengan film-film perangnya, dan mengkombinasikannya dengan jajaran aktor dan kru yang mumpuni ditambah saran-saran teknis dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), yang telah menjadi penasehat teknis dan historis untuk Trilogi Merdeka, DARAH GARUDA mengingatkan untuk membangkitkan kembali spirit perjuangan dan nasionalisme yang sekarang ini mulai pudar.
Film ini adalah pengingat tentang bagaimana para pendiri bangsa berjuang dengan gagah berani demi persatuan dan kemerdekaan negara kita terlepas dari berbagai perbedaan agama, etnis, kelas sosial dan budaya, sambung Hashim, yang kehilangan dua pamannya pada saat perang ketika mereka terbunuh di Lengkong, Tangerang, Jawa Barat pada 1946, dan ayahnya Sumitro Djojohadikusumo adalah salah satu Bapak Bangsa.
“Tujuan kami adalah untuk menghibur penonton dengan sebuah film yang mengkombinasikan laga, drama, humor, kisah cinta, tragedi kemanusiaan dan cerita kehidupan pribadi yang kuat, sehingga kita dapat menginspirasi seluruh generasi baru dengan spirit generasi sebelum kita yang telah berjuang dan berkorban demi kemerdekaan Indonesia yang kita nikmati sekarang ini," tambahnya. (endy)
Film : Darah Garuda: Merah Putih II
Sutradara : Yadi Sugandi dan Conor Allyn
Produser executif : Hashim Djojohadikusumo
Penyunting gambar : Sastha Sunu
Koordinator Efek Khusus : Adam Howarth (Saving Private Ryan, Blackhawk Down)
Ahli Persenjataan : John Bowring (The Matrix, The Thin Red Line, Australia, Wolverine, Merah Putih)
Tata Rias dan Prostetik : Conor O’Sullivan (The Dark Knight, Saving Private Ryan, Braveheart).
Koordinator Laga : Scott McLean (The Matrix, The Pacific-sekuel terbaru dari Steven Spielberg/Tom Hanks Band Of Brothers),
Asisten Sutradara : Andy Howard (From Hell, Wanted, Hellboy)
Teknisi Ahli Efek Khusus : Graham Riddell (Robin Hood, Batman Begins, Star Wars I, Band Of Brothers, Kingdom Of Heaven).
Pemain : Donny Alamsyah, Rahayu Saraswati, T. Rifnu Wikana, Lukman Sardi, Astri Nurdin, Darius Sinathrya, Atiqah Hasiholan, Ario Bayu, Rudy Wowor, Alex Komang dan memperkenalkan aktor cilik Aldy Zulfikar
Trilogi Merdeka, DARAH GARUDA: MERAH PUTIH II.
Dengan mengetengahkan kisah kelahiran Indonesia pada dunia, melalui proyek film terbesar sepanjang sejarah Indonesia, masih menyajikan suasana perang tahun 1047. Laga mendebarkan, drama, romansa dan intrik menjadi balutan menarik. Apalagi sebuah karya pita siluet, yang menyatukan pekerja film terbaik Indonesia ditunjang efek khusus Hollywood.
PT Media Desa Indonesia, yang memproduksi film epik perang bertabur bintang ini, menggandeng Margate House Films, sebuah rumah produksi internasional yang dimiliki oleh orang Amerika, Rob Allyn. B. Sejumlah pemain ternama, tampil sangat prima dan berhasil memukau penonton.
"Setahun terakhir, bersamaan perjalanan Merah Putih yang meraih sukses box office, penghargaan di dalam negeri sampai berbagai festival dan pasar film internasional di Los Angeles, Cannes, Pusan, Berlin, Hong Kong, Amsterdam, Sydney dan Moscow, kami sangat senang dan terhormat akan reaksi penonton yang luar biasa besar dan antusias terhadap kisah penting tentang pengorbanan para pahlawan demi persatuan, toleransi beragama, dan kemerdekaan,” papar Hashim Djojohadikusumo selaku produser eksekutif.
Sejak Juli 2010, sambung Hashim, saat 200 trailer dari sekuel kedua Trilogi Merdeka ini diputar di bioskop se nusantara, sudah menjadi film paling ditunggu. Memang kisahnya berlanjut ke skala lebih besar baik di darat, laut, dan udara dengan adegan-adegan laga yang lebih besar. Ditambah konflik dramatis yang lebih dalam, intrik dengan kejutan tak terduga, pengkhianatan, dan spionase. Film ini juga memfokuskan pada peran perempuan, anak dan Belanda pada masa Revolusi.
“Kami memilih saat Idul Fitri untuk merilis film ini, karena liburan Lebaran merupakan momen dimana keluarga berkumpul dan film kedua ini sungguhlah tepat untuk berbagi bersama di antara generasi berbeda dalam keluarga Indonesia,” jelas Hashim.
Film ini memperlihatkan bagaimana semua orang dari usia, jender, agama, kelas sosial dan etnis berbeda justru bersatu – perempuan dan anak-anak, tua dan muda, Muslim dan Kristen, Hindu maupun agama lain dan berbagai suku, mengorbankan semuanya bukan demi uang tapi untuk kemerdekaan.
Film ini menyampaikan pesan-pesan toleransi, saling menghargai, kebersamaan, saling tolong-- nilai-nilai dasar untuk karakter bangsa yang dimulai dari keluarga, tambah Hasyim.
Indonesia telah memberikan contoh yang luar biasa kepada dunia dengan nilai-nilai tersebut sejak kelahiran bangsa ini, namun kisah ini tidak terlalu dikenal dari yang seharusnya, sambung Rob Allyn, produser eksekutif dan penulis skenario.
“Tujuan kami adalah untuk berbagi cerita tentang kemerdekaan, pengorbanan, persatuan dan toleransi baik bagi generasi Indonesia saat bersama keluarga, maupun untuk di luar negeri yang telah merespon dengan positif lewat film pertama Merah Putih,” sambung Rob.
Darah Garuda mengikuti sebuah kelompok heroik para kadet yang menjadi tentara gerilya tahun 1947. Mereka, para pejuang terpecah oleh rahasia-rahasia mereka di masa lalu dan konflik yang tajam dalam hal kepribadian, kelas sosial dan agama, keempat lelaki muda bersatu untuk melancarkan sebuah serangan nekat terhadap kamp tawanan milik Belanda demi menyelamatkan para perempan yang mereka cintai.
Para kadet ini terhubung dengan kantor pusat Jendral Sudirman, dimana mereka diberi sebuah tugas sangat rahasia di belakang garis musuh di Jawa Barat. Sebuah serangan gaya komando pada lapangan udara vital, yang dapat membalikkan perlawanan para pemberontak melawan kezaliman, yang telah dilakukan Jendral Van Mook pada Agustus 1947.
Kelompok gerilya ini menembus dalam ke Jawa Barat, dan bertemu kelompok lain dari separatis Islam, juga sekutu baru maupun yang potensial berkhianat: mata-mata kolonial dengan pangkatnya sendiri dan sekutu orang-orang sipil dari jalanan; dan musuh lama yang bertanggung jawab atas intelejen Belanda.
Dikepung oleh musuh yang mengelilingi, baik musuh dari luar maupun dari dalam, para pahlawan ini harus bersatu dan saling percaya karena mereka berjuang melawan intrik, perkelahian jarak dekat, pengkhianatan dan kekuasaan luar biasa sebuah maha kekaisaran Eropa, demi mengejar satu tujuan: Kemerdekaan.
Darah Garuda memasangkan keahlian sinematik dari penata sinematografi terhandal di Indonesia, Yadi Sugandi (Laskar Pelangi, Under The Tree, The Photograph) dengan kekuatan penyutradaraan dinamis dari bintang baru Conor Allyn, yang keahlian berceritanya sebagi penulis dan produser trilogi Merah Putih, memadukan drama dan laga dalam cara bertutur gaya gerak memancang.
Bersama, Yadi Sugandi dan Conor Allyn berhasil menyutradarai sebuah saga peperangan yang hidup dengan alur cepat di darat, laut, dan udara, yang merupakan film epik terbesar dan paling profesional dalam sejarah bangsa, penuh laga, ketegangan, kejutan dan kelokan, intrik, romansa, humor dan penampilan dramatis oleh para pemain yang mempesona dari bakat terbaik perfilman Asia Tenggara.
Dibesut dalam format 35-milimeter berdurasi 100 menit, Film ini menampilkan adegan-adegan action memukau yang melibatkan ahli perfilman internasional terbaik dalam bidang efek khusus dan tata teknis lain yang berpengalaman di perfilman Hollywood. Dengan tim penyutradaraan baru Yadi Sugandi dan Conor Allyn, Darah Garuda dan film ketiga yang nanti akan muncul dari trilogi ini, Hati Merdeka.
Digawangi oleh para pembuat film profesional Indonesia dan Hollywood yang terkenal dengan film-film perangnya, dan mengkombinasikannya dengan jajaran aktor dan kru yang mumpuni ditambah saran-saran teknis dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), yang telah menjadi penasehat teknis dan historis untuk Trilogi Merdeka, DARAH GARUDA mengingatkan untuk membangkitkan kembali spirit perjuangan dan nasionalisme yang sekarang ini mulai pudar.
Film ini adalah pengingat tentang bagaimana para pendiri bangsa berjuang dengan gagah berani demi persatuan dan kemerdekaan negara kita terlepas dari berbagai perbedaan agama, etnis, kelas sosial dan budaya, sambung Hashim, yang kehilangan dua pamannya pada saat perang ketika mereka terbunuh di Lengkong, Tangerang, Jawa Barat pada 1946, dan ayahnya Sumitro Djojohadikusumo adalah salah satu Bapak Bangsa.
“Tujuan kami adalah untuk menghibur penonton dengan sebuah film yang mengkombinasikan laga, drama, humor, kisah cinta, tragedi kemanusiaan dan cerita kehidupan pribadi yang kuat, sehingga kita dapat menginspirasi seluruh generasi baru dengan spirit generasi sebelum kita yang telah berjuang dan berkorban demi kemerdekaan Indonesia yang kita nikmati sekarang ini," tambahnya. (endy)
Film : Darah Garuda: Merah Putih II
Sutradara : Yadi Sugandi dan Conor Allyn
Produser executif : Hashim Djojohadikusumo
Penyunting gambar : Sastha Sunu
Koordinator Efek Khusus : Adam Howarth (Saving Private Ryan, Blackhawk Down)
Ahli Persenjataan : John Bowring (The Matrix, The Thin Red Line, Australia, Wolverine, Merah Putih)
Tata Rias dan Prostetik : Conor O’Sullivan (The Dark Knight, Saving Private Ryan, Braveheart).
Koordinator Laga : Scott McLean (The Matrix, The Pacific-sekuel terbaru dari Steven Spielberg/Tom Hanks Band Of Brothers),
Asisten Sutradara : Andy Howard (From Hell, Wanted, Hellboy)
Teknisi Ahli Efek Khusus : Graham Riddell (Robin Hood, Batman Begins, Star Wars I, Band Of Brothers, Kingdom Of Heaven).
Pemain : Donny Alamsyah, Rahayu Saraswati, T. Rifnu Wikana, Lukman Sardi, Astri Nurdin, Darius Sinathrya, Atiqah Hasiholan, Ario Bayu, Rudy Wowor, Alex Komang dan memperkenalkan aktor cilik Aldy Zulfikar
Kamis, 06 Maret 2008
Sinopsis Dan Resensi Laskar Pelangi

Sinopsis Buku:
Begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam masa kecil para anggota Laskar Pelangi. Sebelas orang anak Melayu Belitong yang luar biasa ini tak menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka. Tengoklah Lintang, seorang kuli kopra cilik yang genius dan dengan senang hati bersepeda 80 kilometer pulang pergi untuk memuaskan dahaganya akan ilmubahkan terkadang hanya untuk menyanyikan Padamu Negeri di akhir jam sekolah.
Atau Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya, namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus. Dan juga sembilan orang Laskar Pelangi lain yang begitu bersemangat dalam menjalani hidup dan berjuang meraih cita-cita. Selami ironisnya kehidupan mereka, kejujuran pemikiran mereka, indahnya petualangan mereka, dan temukan diri Anda tertawa, menangis, dan tersentuh saat membaca setiap lembarnya.Buku ini dipersembahkan buat mereka yang meyakini the magic of childhood memories, dan khususnya juga buat siapa saja yang masih meyakini adanya pintu keajaiban lain untuk mengubah dunia: pendidikan.
Saya sangat mengagumi novel Laskar Pelangi karya Mas Andrea Hirata. Ceritanya berkisah tentang perjuangan dua orang guru yang memiliki dedikasi tinggi dalam dunia pendidikan. [Novel ini menunjukkan pada kita] bahwa pendidikan adalah memberikan hati kita kepada anak-anak, bukan sekadar memberikan instruksi atau komando, dan bahwa setiap anak memiliki potensi unggul yang akan tumbuh menjadi prestasi cemerlang di masa depan, apabila diberi kesempatan dan keteladanan oleh orang-orang yang mengerti akan makna pendidikan yang sesungguhnya. (Kak Seto - Ketua Komnas Perlindungan Anak)
Ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, yang menjawab inti pertanyaan kita tentang hubungan-hubungan antara gagasan sederhana, kendala, dan kualitas pendidikan. (Sapardi Djoko Darmono - Sastrawan dan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UI)
Di tengah berbagai berita dan hiburan televisi tentang sekolah yang tak cukup memberi inspirasi dan spirit, maka buku ini adalah pilihan yang menarik. Buku ini ditulis dalam semangat realis kehidupan sekolah, sebuah dunia tak tersentuh, sebuah semangat bersama untuk survive dalam semangat humanis yang menyentuh. (Garin Nugroho - Sineas)
Cerita Laskar Pelangi sangat inspiratif. Andrea menulis sebuah novel yang akan mengobarkan semangat mereka yang selalu dirundung kesulitan dalam menempuh pendidikan. (Arwin Rasyid - Dirut Telkom dan dosen FEUI).
Inilah cerita yang sangat mengharukan tentang dunia pendidikan dengan tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, tawakal, takwa, [yang] dituturkan secara indah dan cerdas. Pada dasarnya kemiskinan tidak berkorelasi langsung dengan kebodohan atau kegeniusan. Sebagai penyakit sosial kemiskinan harus diperangi dengn metode pendidikan yang tepat guna. Dalam hubungan itu hendaknya semua pihak berpartisipasi aktif sehingga terbangun sebuah monumen kebajikan di tengah arogansi uang dan kekuasaan materi. (Korrie Layun Rampan - Sastrawan dan Ketua Komisi I DPRD Kutai Barat)
Resensi Buku:
Banyak orang yang telah membaca buku ini mengatakan kesan “menarik” kepada saya. Karena penasaran, saya pun membelinya. Setelah saya membacanya sendiri, ternyata bukan hanya kata menarik yang didapat dari cerita dalam buku ini, tapi SUNGGUH MENGESANKAN! Buku yang menurut saya banyak sekali pelajaran yang bisa diambil; keagamaan, persahabatan yang luar biasa, cinta pertama yang indah, ketegaran hidup, bahkan makna sebuah takdir yang tidak bisa kita tebak, Sebuah buku yang “pintar” hasil dari pemikiran seorang yang pintar. Menggabungkan dua hal yang berbeda, sastra dan science. Sepertinya saat kita membaca ini kita bukan hanya terlarut dalam perjalanan hidup pelaku didalamnya tapi juga kita bisa belajar banyak. Mulai dari ilmu dunia fisika, istilah biologi, geografi dari provinsi Bangka Belitong, sampai perekonomian masyarakat di sana yang dikuasai sepenuhnya oleh penambangan timah. Cerita ini memang lain dari cerita biasanya. Mengambil latar pada sebuah tempat yang tak terpikirkan oleh kita. Sebuah tempat kecil di Indonesia yang memiliki kekayaan yang luar biasa. Sayangnya tidak semua penduduknya dapat merasakan hasil dari kekayaan alam negerinya. Tersebutlah sebuah daerah di Belitong di mana masyarakat di dalamnya terbagi dalam dua bagian yang amat berbeda status sosialnya. Dimana terdapat masyarakat yang dapat menikmati fasilitas terbaik dan kehidupan yang sangat layak. Mereka lah orang-orang staf atau petinggi PN Timah. Di lain pihak, terdapat sekumpulan manusia yang harus jungkir balik untuk menafkahi keluarganya dan hidup dengan fasilitas yang bahkan sangat tidak memadai. Merekalah para pekerja rendahan dari PN Timah. Mereka tak bisa ikut merasakan kemewahan yang dinikmati para golongan elite, karna secara langsung, pemerintah disana telah memisahkan tempat tinggal, pekerjaan dan membedakan status diantara keduanya. Tersebutlah sebuah sekolah terpencil di daerah Belitong yang bahkan tak tersentuh tangan pemerintah, Sekolah Muhamadiyah. Bertahan demi pendidikan rakyat miskin. Pengorbanan dari satu-satunya pengajar yang harus diacungi jempol yang bertahan demi kemajuan pendidikan ilmu dan agama untuk anak-anak tidak mampu, dialah Ibu Mus. Dan ketabahan sang kepala sekolah yang terkadang merangkap sebagai guru, Pak Harfan. Benar-benar luar biasa membayangkan betapa merekalah cerminan kata-kata “Guru, Pahlawan tanpa tanda jasa” yang sesungguhnya. Mereka telah berhasil mencetak manusia-manusia yang walaupun tidak keseluruhan sukses secara materi tapi mereka semua sukses dalam berperilaku sosial yang baik. Berkeagamaan yang baik dan setidaknya jika ada yang menjadi petinggi, mereka bukanlah seorang koruptor. Inilah kisah yang paling menarik dari buku ini. Persahabatan sepuluh orang anak miskin yang menamakan diri mereka sebagai Laskar Pelangi. Mereka sudah bersama sejak mereka memulai bangku sekolah. Merekalah : Ikal, Mahar, Lintang, Harun, Syahdan, A Kiong, Trapani, Borek, Kucai dan satu-satunya wanita di kelas mereka, Sahara. Mereka semua diberi suatu karakter yang kuat satu sama lain oleh sang penulis sehingga sifat diantara mereka semuanya unik. Banyak hal yang mereka lalui bersama. Kemiskinan sepertinya bukan hal yang bisa merusak masa kanak-kanak mereka. Kisah indah percintaan anak muda antara Ikal dengan seorang Tionghoa bernama A Ling yang berawal dari pembelian kapur tulis yang mengesankan. Kesabaran Ikal untuk bisa mendapatkan kekasih hatinya sampai ketegaran Ikal saat A Ling akhirnya harus meninggalkannya. Dari sini kita dapat belajar bahwa seorang anak kecil bahkan bisa bersikap jauh lebih dewasa dibandingkan orang dewasa saat menghadapi masalah percintaan. Siapa juga akan menyangka bahwa sekolah terpencil Muhamadiyah bisa berbuah dua orang genius di bidang yang berbeda. Dialah Lintang, sang ilmuwan cilik. Dan Mahar, sang seniman sejati. Banyak perubahan besar yang mereka lakukan dalam merubah citra sekolah Muhamadiyah dimata masyarakat elite melalui bidang mereka masing-masing. Tapi ternyata nasib selanjutnya berkehendak lain. Ayah Lintang meningggal dunia, dan sang genius itu terpaksa harus menghentikan pendidikannya di sekolah Muhamadiyah akibat tak ada biaya. Tak ada yang menyangka juga bahwa sang seniman, Mahar, semakin hari justru malah semakin tertarik pada ilmu mistik alam gaib. Karena suatu hal, membawa ia pada suatu pertemuan dengan seorang anak perempuan tomboy, anak seorang penguasa kapal keruk di PN Timah, Flo. Karena tertarik pada bidang mistik yang dimiliki oleh Mahar, Flo akhirnya meninggalkan segala kemewahan sekolah PN untuk melanjutkan studinya di sekolah miskin Muhamadiyah. Mereka bersama kelompok pecinta alam gaibnya telah banyak menguak misteri yang dianggap orang keramat di daerah Belitong. Tak jarang kelompok yang dipimpin Mahar ini mendapatkan ejekan dari masyarakat setempat. Tapi Mahar serta Flo tak pernah menyerah. Juga walaupun telah ditegur oleh Ibu Mus karna telah menodai ilmu agama, tapi Mahar dan Flo tetap pada jalan yang telah ia tempuh. Hobi mereka pada alam gaib ini menyebabkan mereka terancam tak bisa mengikuti ebtanas karna nilai-nilai mereka yang semakin menurun. Mereka pun mulai resah. Akhirnya terlintas ide untuk meminta petunjuk pada seorang dukun sakti yang banyak disebut oleh masyarakat sebagai manusia setengah peri, Tuk Bayan Tula. Maka pergilah Flo dan Mahar bersama tim dunia mistiknya mengunjungi kediaman sang Tuk yang terdapat pada sebuah pulau tak berpenghuni yang terkenal sangat angker yaitu Pulau Lanun. Dengan mempertaruhkan nyawa sepanjang perjalanan, akhirnya mereka semua sampai di Pulau tersebut. Dengan menempuh perjalanan yang panjang dan mengerikan, akhirnya mereka sampai ke suatu gua tempat kediaman sang dukun. Dan mereka berhasil berjumpa langsung dengan Tuk Bayan Tula, sang idola mereka. Maka berceritalah Flo dan Mahar tentang masalah mereka di sekolah. Tuk yang menghargai usaha mereka mencapai pulau itu kemudian memberi mereka sebuah petunjuk yang tertulis pada sebuah gulungan kertas. Siapa menyangka ternyata petunjuk yang diberikan sang dukun bisa mengubah jalan hidup Mahar dan Flo. Dua belas tahun kemudian, kesepuluh sahabat itu menjadi seseorang yang benar-benar tidak bisa disangka. Mereka menjalani hidup mereka masing-masing dengan damai dan selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan pada mereka saat itu. Seperti apakah petunjuk yang diberikan oleh sang dukun sakti kepada Mahar dan Flo hingga menyebabkan perubahan pada diri mereka? Bagaimana pula nasib sang genius Lintang setelah dia putus sekolah? Apa yang terjadi pula pada kisah cinta pertama Ikal pada A Ling, apakah masih ada harapan baginya untuk bertemu dengan A Ling? Ikuti kisahnya dalam buku Laskar Pelangi. Saya yakin, tak akan menyesal membaca buku ini karena buku ini memberi kita pelajaran, bagaimanapun hidup yang kita jalani, kita harus senantiasa bersyukur.
sumber : berbagai sumber
MINGGU, 19 SEPTEMBER 2010 | 00:18 WITA | 583676 Hits
Resensi film: SANG PENCERAH
Kisah Perjuangan Pendiri Muhammadiyah
Jenis film: Drama. Sutradara: Hanung Bramantyo. Penulis: Hanung Bramantyo. Pemain: Lukman Sardi, Slamet Rahardjo, Zaskia Adya Mecca, Giring, Ihsan Idol, Ikranegara, Yatti Surachman, Joshua Suherman. KISAH ini diawali lahirnya seorang bayi laki-laki di Kauman, bernama Darwis. Berangkat remaja ia banyak melihat tradisi sesajen berbaur agama Islam yang menurutnya dapat menyesatkan, Ia berangkat ke tanah suci di usia 15 tahun. Sepulang dari Mekah, Darwis mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah Bidah.
Karenanya, Islam dipandang sebagai agama mistik dan tahayul oleh kalangan Eropa (Belanda) dan kaum modern. Melalui suraunya Ahmad Dahlan membuka sekolah yang menyadarkan bahwa Islam tidak hanya berkutat soal tauhid, tetapi juga mampu memperbaiki kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan.
Bagi Ahmad Dahlan kemiskinan disebabkan karena kebodohan. Berangkat dari gagasan itulah maka laki-laki putra Khatib Masjid Besar Kauman itu memulai kiprahnya. Diawali dengan mengubah arah kiblat yang salah di Masjid Besar Kauman yang mengakibatkan kemarahan para kyai fanatik. Surau atau Langgar Kidoel Ahmad Dahlan dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat.
Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai kafir hanya karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda. Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut.
Didampingi isteri tercinta, Siti Walidah, dan 5 murid-murid setianya yakni Sudja, Fahrudin, Hisyam, Syarkawi, dan Abdulgani, Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman.
Peran Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah dimainkan apik oleh Lukman Sardi dan Zaskia Adya Mecca. Detail emosi dibangun secara detail dan manusiawi oleh Hanung. Dalam kesabarannya, Ahmad Dahlan digambarkan putus asa, marah, dan sedih hingga menangis. Adegan ini serta merta bisa membuat penonton meleleh.
Sederet bintang remaja seperti Joshua, Ricky Perdana, Mario Irwinsyah, Dennis Adishwara) dan Abdurrahman Arif) yang berperan sebagai murid Ahmad Dahlan. Anda juga bisa menyaksikan peran Giring 'Nidji' yang boleh dikata cukup sebagai artis pendukung. (nin)
Resensi : Sang Pemimpi
Ah ada yang lupa di resensi. Mumpung di Bandung kemarin nyempetin nonton Kelanjutan Laskar Pelangi, yaitu Film Sang Pemimpi. Nonton di BTC Bandung, XXI nya, nonton hari sabtu dapet lah harga tiket normal :roll: . udah gitu nonton yang malem nggak ngeh klo di BTC ada liftnya, secaraXXI ada di lantai paling atas dan aku bersama nyonya berangkat pake motor. Dasar jarang ke BTC hehehe.. akhirnya jalan kaki lah ke lantai paling atas (semua eskalator dah mati)
Sebelum berangkat dari Denpasar, ini salah satu film yang masuk jadwal nonton setiba di Bandung. Pengennya sih nomat biar dapet nonton film banyak (sedih dengan keadaan bioskop2 di Denpasar…) tapi apa daya karena jadwal yang padat akhirnya baru dapet nonton itupun last show (bukan midnight ya). gapapa. semangat nonton walau hujan gerimis :mrgreen:
Ini sekuel. entah karena kontrak atau memang sudah deal nya begitu , Mira Lesmana yang cukup anti bikin sekuel pun menghadirkan film ini. Sebelum di resensi monggo disimak para pelaku nya:
Produser :
Mira Lesmana
Produksi :
Miles Film & Mizan Productions
Pelaku :
Lukman Sardi
Mathias Muchus
Nugie
Landung Simatupang
Rieke Dyah Pitaloka
Yayu Unru
Vikri Septiawan
Rendy Ahmad
Azwir Fitrianto
Jay Wijayanto
Nazril Irham <alias Ariel PeterPan bagi yang ga tau>
Dalang semuanya :
Riri Riza
nah klao dari nama Riri Riza dan Mira Lesmana itu jaminan klo filmnya bagus , matang , dan enggak murahan seperti film2 Indonesia 2009 umumnya.. tapi apa bener begitu ?
Maksud lo gung
Ehm , Maaf klo ane belum baca bukunya (Yang saya bayangkan klo bukunya memang sebuah mahakarya. Atau setidaknya itulah yang ada di bayangan saya :oops: ) jadi apa yang saya ceritakan disini murni dari sudut pandang seorang penonton film, yang datang dengan ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap sebuah film ini. Sang Pemimpi sendiri secara garis besar bercerita tentang kehidupan SMU ikal, tokoh sentral di buku Tetralogi LP . Kehidupan semasa SMU, dengan teman2 baru dan pengalaman2 baru dan kemudian kepindahan mengadu nasib dan kuliah di Jakarta .
Ikal enggak sendiri. Kalo sendiri enggak rame dunkz filmnya (garing lu :roll: ) . Disini dia ditemani oleh Arai (seorang sepupu jauh yang ditinggal mati orangtuanya) , dan seorang anak yatim bernama Jimbron yang sangat antusias jika berbicara tentang kuda namun gagap akibat trauma masa kecil. Di sekolah mereka, Sebuah SMU pertama di kotanya, Trio berandal ini dihadapkan kepada seorang tokoh kepala sekolah killer bernama Pak Mustar. Layaknya seorang yang disiplin dan menuntut agar murid2nya menjadi orang yang tangguh di masyarakat, maka Pak Mustar tak segan2 memberikan imbalan hukuman bagi murid yang lalai. Jika ada tokoh yang sedikit jahad maka ada tokoh yang baig. Baik maksdunya hehe . Yaitu Pak Balia, seorang guru yang selalu mengajar dengan semangat, mengajarkan murid2nya untuk selalu optimis dan menaruh mimpi setinggi mungkin, bahkan menyarankan mereka menuntut ilmu ke negara2 di Eropa. Keren.
Kisah Asmara (prikitiew)
Arai , seorang anak polos yang berjiwa romantis, jatuh hati kepada Zakiah Nurmala, mencoba berbagai cara agar bisa menarik perhatian Zakiah untuk menyukai nya. Termasuk kemudian bertemu dengan seniman keliling maestro lagu melayu Bang Zaitun dan berguru kepadanya.
Jimbron sendiri jatuh hati kepada seorang gadis pendiam bernama laksmi yang edan susah buanget untuk dibuat tersenyum. Tapi itu juga akibat trauma masa kecil.
Ikal? Ga jelas. Ikal remaja (Vikri Setiawan) di film ini terlalu banyak cemberut, mengernyitkan muka dan manyun. WTF? hehe :mrgreen: ga penting untuk dibahas . Lanjut
Mereka bertiga bercita2 untuk berjalan2 ke Eropa dan menuntut ilmu ke Perancis. Ini semua diwujudkan dengan bekerja penuh sebelum sekolah, sepulang sekolah, tak henti guna menabung uang agar bisa ke Jakarta dahulu. Anak Muda ? Pasti ingin tahu segala hal, termasuk ketika bioskop di dekat tempat mereka memutar film rada dewasa berjudul Si Carik Merah nekat nonton walau sudah dilarang kepala sekolah. Ketahuan lah pastinya. Digiring dan dihukum di sekolah membersihkan WC laknat yang isinya *maaf harus saya sensor*Tai*sensor* . Konflik terjadi dimana Ikal sudah tak tahan bekerja keras terus menerus hanya untuk menabung ke Jakarta, sedangkan ia lebih tertarik kisah seorang Mualim kapal bernama Bang Rokib yang sudah keliling dunia dengan berlayar. Dan ia tertarik dengan konsep “tak perlu sekolah tinggi2 untuk bisa melihat dunia”
Pecahlah persahabatan. Ikal lebih banyak menyendiri dan ngambek ga mau sekolah. Sedangkan Arai dan Jimbron tetap meneruskan walau setengah kecewa.
Ah jika diterusin Spoiler dong bos. Maka di cepetin aja ok. Singkatnya mereka berhasil ke Jakarta tanpa Jimbron. Disini mereka ketemu Ariel Peterpan. Eh Salah, Ada arai kuliah diperankan Nazril Ilham. Cerita dipoting. Mereka lulus. Dapat Beasiswa dan Pergi ke perancis.
Uhuk
Ada beberapa hal yang membuat saya agak kecewa dengan Film Sang Pemimpi.
Sebelum berangkat dari Denpasar, ini salah satu film yang masuk jadwal nonton setiba di Bandung. Pengennya sih nomat biar dapet nonton film banyak (sedih dengan keadaan bioskop2 di Denpasar…) tapi apa daya karena jadwal yang padat akhirnya baru dapet nonton itupun last show (bukan midnight ya). gapapa. semangat nonton walau hujan gerimis :mrgreen:
Ini sekuel. entah karena kontrak atau memang sudah deal nya begitu , Mira Lesmana yang cukup anti bikin sekuel pun menghadirkan film ini. Sebelum di resensi monggo disimak para pelaku nya:
Produser :
Mira Lesmana
Produksi :
Miles Film & Mizan Productions
Pelaku :
Lukman Sardi
Mathias Muchus
Nugie
Landung Simatupang
Rieke Dyah Pitaloka
Yayu Unru
Vikri Septiawan
Rendy Ahmad
Azwir Fitrianto
Jay Wijayanto
Nazril Irham <alias Ariel PeterPan bagi yang ga tau>
Dalang semuanya :
Riri Riza
Maksud lo gung
Ehm , Maaf klo ane belum baca bukunya (Yang saya bayangkan klo bukunya memang sebuah mahakarya. Atau setidaknya itulah yang ada di bayangan saya :oops: ) jadi apa yang saya ceritakan disini murni dari sudut pandang seorang penonton film, yang datang dengan ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap sebuah film ini. Sang Pemimpi sendiri secara garis besar bercerita tentang kehidupan SMU ikal, tokoh sentral di buku Tetralogi LP . Kehidupan semasa SMU, dengan teman2 baru dan pengalaman2 baru dan kemudian kepindahan mengadu nasib dan kuliah di Jakarta .
Ikal enggak sendiri. Kalo sendiri enggak rame dunkz filmnya (garing lu :roll: ) . Disini dia ditemani oleh Arai (seorang sepupu jauh yang ditinggal mati orangtuanya) , dan seorang anak yatim bernama Jimbron yang sangat antusias jika berbicara tentang kuda namun gagap akibat trauma masa kecil. Di sekolah mereka, Sebuah SMU pertama di kotanya, Trio berandal ini dihadapkan kepada seorang tokoh kepala sekolah killer bernama Pak Mustar. Layaknya seorang yang disiplin dan menuntut agar murid2nya menjadi orang yang tangguh di masyarakat, maka Pak Mustar tak segan2 memberikan imbalan hukuman bagi murid yang lalai. Jika ada tokoh yang sedikit jahad maka ada tokoh yang baig. Baik maksdunya hehe . Yaitu Pak Balia, seorang guru yang selalu mengajar dengan semangat, mengajarkan murid2nya untuk selalu optimis dan menaruh mimpi setinggi mungkin, bahkan menyarankan mereka menuntut ilmu ke negara2 di Eropa. Keren.
Kisah Asmara (prikitiew)
Arai , seorang anak polos yang berjiwa romantis, jatuh hati kepada Zakiah Nurmala, mencoba berbagai cara agar bisa menarik perhatian Zakiah untuk menyukai nya. Termasuk kemudian bertemu dengan seniman keliling maestro lagu melayu Bang Zaitun dan berguru kepadanya.
Jimbron sendiri jatuh hati kepada seorang gadis pendiam bernama laksmi yang edan susah buanget untuk dibuat tersenyum. Tapi itu juga akibat trauma masa kecil.
Pecahlah persahabatan. Ikal lebih banyak menyendiri dan ngambek ga mau sekolah. Sedangkan Arai dan Jimbron tetap meneruskan walau setengah kecewa.
Uhuk
Ada beberapa hal yang membuat saya agak kecewa dengan Film Sang Pemimpi.
- Banyak editing yang dipaksakan (apa mengejar durasi dan skenario?) belum jelas satu adegan langsung cut. atau ada adegan yang enggak penting kemudian langsung pindah ke adegan lain. Misalnya ketika Pak Balia mau pulang tapi lembur kemudian datang pak Mustar mengajak minum kopi. Mungkin maksudnya ingin memperlihatkan kalau pak Mustar itu sebenarnya orang gak galak2 amat. tapi akhirnya dipaksakan dan harus jadi satu scene di film ini. aduh.
- Visualisasi kegemaran Jimbron akan kuda terkadang menghibur namun ada juga yang gak jelas bahkan sama seperti diatas, terkesan harus jadi satu scene di film.
- Jimbron lagi : Jika di Laskar Pelangi banyak tokoh yang bisa dijadikan penghibur tidak sekedar kameo. Maka Tragisnya di Sang pemimpi Jimbron cuma ditempel biar “lucu” dialognya sedikit dan permainan cuma fokus di Arai vs Ikal
- Di Bogor (dan beberapa scene ketika ikal dan arai kuliah di jakarta) ada mobil avanza dan taruna wuanjrot. era 2000-an dah keluar ni mobil ?!?! hahhah
| RESENSI : AYAT AYAT CINTA | for everyone |
JUDUL : AYAT AYAT CINTA
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit Republika
Hal: ix + 418
Peresensi: Diansya
Penasaran sekali dengan novel ini. Apa sih isinya? Dan seperti apa? Sampai heboh dimana-mana.
Awal baca, aku sedikit menyalahkan beberapa orang yang meresensi. Masa seperti ini novel sih? Kupikir malah terlalu banyak teori. Belum lagi istilah-istilah asing yang sangat banyak. Semakin membaca, istilah asingnya semakin banyak, ada Arab, Jerman dan Inggris hi..(kalau Inggris sih, dasar sayanya yang emang minimal banget). Jadi kepikir kalau aku nulis istilah nihonggonya kebanyakan, emang bener, bakalan banyak diprotes orang.
Tapi bukan berarti tidak menarik. Kurasakan perasaan yang sulit diungkapkan, membaca di zaman seperti ini, ada orang yang haus ilmu. Mengaji pada seorang ustadz. Dengan jarak puluhan kilometer, ditempuh dalam waktu tidak sebentar. Sungguh, itu sebuah kabar yang jarang sekali kudengar. Biasanya adalah menceriterakan kisah salafushsholih saat menuntut ilmu. Tapi ini dijaman sekarang? Apalagi itu dilakukan dalam keadaan terik matahari musim panas di Mesir yang mencapai 40 derajat lebih. Subhanalloh. Eh, aku justeru nangisnya di sini. Di belakang-belakang saat adegan-adegan ‘novel’ kok malah ga keluar air matanya ya? Menurutku sih kisah percintaannya biasa-biasa saja.
Ada juga saat menceriterakan mimpi Fahri saat bertemu dengan Ibnu Mas’ud. Membuat perasaan saya ikut mengharu-biru.Tidak salah memang kalau novel ini disebut novel penggugah jiwa.
Ada memang beberapa yang kulompat membacanya. Gimana ya, terlalu ilmiah yang menuntut untuk berpikir. Tidak beda dengan membaca buku fiksi, dan yang pasti karena nggak sabar dengan cerita yang dibilang orang-orang seru. Mana sih adegan empat orang wanita yang mencintai Fahri ini?
Di pertengahan lebih buku itu, aku baru merasa membaca novel. Adegan demi adegan mengalir bagus. Kisah Fahri yang ingin menikah, kemudian ada perang batin di saat-saat memutuskan untuk menikah, karena ada wanita lain.
Ada adegan-adegan sepasang pengantin baru disini. Kata pengantarnya, jadi benar-benar seperti novel asmara (ah, apakah novel asmara harus seperti itu??) Saya membayangkan bila belum nikah, baca itu rasanya mungkin risih juga...
Selanjutnya ada adegan dalam penjara Mesir saat Fahri dipenjara. Itu juga mengingatkan saat-saat para ulama dipenjara.
Tak jauh dari masalah keluarga dan wanita. Poligami. Dengan siapa?? Baca aja sendiri he..Happy/sad ending yah novel ini? Akhir cerita memang syahdu, tapi rasanya bukan sad ending. Karena setelah itu rasanya Fahri bahagia bersama isterinya.
Akhirnya, buku ini (bukan novel he..) bisa dibaca oleh semua orang. Bagi yang masih kurang menyukai novel, buku ini tidak melulu adegan-adegan kehidupan seperti novel-novel pada umumnya. Banyak sekali ilmu di dalamnya. Dalam dunia penulisan, seringkali dibilang kalau bisa jangan terlalu “ini ibu Budi” sekali dalam menuliskan hikmah. Namun dalam buku ini tidak hanya “ini ibu Budi..” bahkan banyak dalil-dalil didalamnya Mulai dari masalah pandangan wanita dalam Islam, pergaulan dengan non muslim dan banyak lagi. Namun saya merasakan tidak digurui. Mungkin karena dalam konteks ini malah justeru kelihatan ilmiah.
Dan bagi yang masih malas membaca buku-buku yang ilmiah, buku ini juga cocok karena dipadukan dengan kisah yang sangat menawan.
Hemmm...intinya sih, saya puas baca buku ini. Bagus.
NB :
YANG NULIS DI BLOG INIY : NILAMSARI FARAH MILLATINA.
MOHON MAAF JIKA ADA SALAH" DALAM PENULISAN / PEMBUATAN ENTRI INIY... SKALIY LAGI SAYA MINTA MAAF ..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar